Perang Kamang 1908 adalah perlawanan
terhadap kebijakan penjajahan kolonial Belanda yang menerapkan pajak (belasting) secara paksa di negeri
jajahan. Berbagai buku, makalah ilmiah, penelitian, artikel dan berita baik
cetak maupun yang berbasis media elektronik tentang Perang Kamang 1908 banyak
ditemukan. Dari bermacam sumber yang ada, maka kita akan dihantarkan pada sosok
sentral dalam perjuangan Perang Kamang bernama H. Abdul Manan. Beliau disebut
sebagai tokoh penting yang
menjadi pusat perhatian Belanda di masa itu. Ditengah kehidupan masyarakat H.
Abdul Manan sendiri adalah seorang ulama, panutan, sekaligus pemimpin Perang
Kamang. Buyalah yang mengobarkan
semangat jihad dalam menentang kebijakan penetapan belasting dan menentang tindakan kesewenang-wenangan penjajah
Belanda.
Buya (Buya
adalah gelar bagi ulama di Minangkabau yang setingkat dengan kiai untuk daerah
Jawa. Dan H. Abdul Manan pun dalam keseharian di Kamang di panggil dengan panggilan
buya) mengobarkan
semangat perjuangan dengan pekikan Allahuakbar
dan kalimat tauhid Laila ha illallah.
Kebulatan tekad para pejuang berlanjut dengan puncak gejolak Perang Kamang
1908. Perjuangan H. Abdul Manan dan para pahlawan lainnya mereka tebus dengan
nyawa sendiri. Hingga akhirnya beliau gugur dalam perang dahsyat tersebut.
Dari proses pengumpulan bahan tertulis
(tahap heuristic) tentang sejarah Perang Kamang terkumpul 41 bahan tentang
Perang Kamang 1908 dan H. Abdul Manan. Sumber utama yang menjadi acuan
penulisan buku ini adalah bahan dengan kategori sumber primer. Sumber primer
yang dimanfaatkan antara lain tulisan yang dibuat pada masa Perang Kamang karya
H. Ahmad Marzuki berjudul Nazam Perang Kamang. Karya aslinya berupa
tulisan tangan dengan bahasa Arab Melayu yang dibuat pada tahun 1908. Tulisan
itu kemudian dicetak ulang dengan judul Syair Perang Kamang oleh percetakan Fort De Kock pada tahun 1926. Sumber primer
diambil dari koran Algemeen Handelsblad
yang terbit pada tanggal 19 September 1908 berjudul Het Gevecht in Kampoeng Tangah in Kamang. Sumber koran selanjutnya
adalah berita pada Bataviaasch Niewsblad.
Dalam tulisan pada tanggal 18 Juni 1908 terdapat berita berjudul Belasting-Opstootjes, De Belasting Onlusten.
Kemudian, muncul juga sebuah tulisan pada Bataviaasch Niewsblad tanggal 24 Agustus 1908 yang berjudul De Beweging Tersumatera’s Weskust.
Ketiga tulisan pada koran berbahasa Belanda itu terbit tahun 1908 bercerita
tentang Perang Kamang yang begitu dahsyat.
Sumber
menarik lainnya yang berhasil diperoleh adalah sebuah naskah ketikan pribadi
yang dibuat oleh pengalih bahasa H. Gazali Djalaludin. Diperkirakan bersumber
dari buku Blumberger dalam tulisannya
berjudul De Nationalische Beweging In
Nederlandsch-Indie. Selain itu diperoleh juga sebuah kutipan buku tanpa
judul dengan sub bab Het Gevecht te
Kampoeng Tangah in Kamang dalam bahasa Belanda. Buku ini diperkirakan masih
bagian dari buku Blumberger seorang
penulis buku sejarah Belanda.
Untuk
memperkaya informasi tentang Perang Kamang dan H. Abdul Manan, penulis juga menggunakan berbagai buku dan tulisan dengan
kategori sumber sekunder. Penulis juga membaca karya sastra seperti: roman Kamang Affaire yang di tulis Maisir
Thaib. Kamang 1908 (Drama Sebabak) yang di tulis oleh Taharuddin Hamzah dan
Sjamsuddin Sjafei pada tahun 1964. Ada juga novel Catatan Usang Seorang Juru
Tulis karya Trides yang di publikasikan secara on line di internet pada situs
www.rizalbustami.blogspot.com. Penelitian sejarah H Abdul Manan dan Perang Kamang 1908 ini
diperkaya dengan pemanfaatan metode sejarah lisan.
Mengingat
nilai juang dan ketokohan H. Abdul Manan yang begitu besar, maka sudah menjadi
keharusan dibuatnya sebuah buku biografi H. Abdul Manan sang tokoh Perang
Kamang 1908. Hal ini dirasa perlu dan sangat mendesak agar sejarah Perang
Kamang dan tokoh H. Abdul Manan dapat dikenal oleh berbagai pihak. Apalagi
dewasa ini jiwa
zaman telah membawa cahaya sejarah Perang Kamang makin meredup. Ditambah lagi dengan keadaan bangsa yang
makin meninggalkan jati diri keindonesiaan. Makin menipisnya nasionalisme dan
semakin kurangnya rasa kepekaan sosial terhadap bentuk kesewenangan. Sebelum cahaya itu memudar maka
bersegeralah kita menggelorakannya kembali. Salah satunya adalah dengan
membangkitkan kembali kecintaan akan sejarah dan nilai-nilai juang Perang
Kamang 1908 dihati para generasi muda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar