Sabtu, 11 Juli 2020

MEMBUKA SELUBUNG SEJARAH PERANG KAMANG 1908 (BAGIAN 1)

Perang Kamang 1908 adalah perlawanan terhadap kebijakan penjajahan kolonial Belanda yang menerapkan pajak (belasting) secara paksa di negeri jajahan. Berbagai buku, makalah ilmiah, penelitian, artikel dan berita baik cetak maupun yang berbasis media elektronik tentang Perang Kamang 1908 banyak ditemukan. Dari bermacam sumber yang ada, maka kita akan dihantarkan pada sosok sentral dalam perjuangan Perang Kamang bernama H. Abdul Manan. Beliau disebut sebagai tokoh penting yang menjadi pusat perhatian Belanda di masa itu. Ditengah kehidupan masyarakat H. Abdul Manan sendiri adalah seorang ulama, panutan, sekaligus pemimpin Perang Kamang. Buyalah yang mengobarkan semangat jihad dalam menentang kebijakan penetapan belasting dan menentang tindakan kesewenang-wenangan penjajah Belanda.
Buya (Buya adalah gelar bagi ulama di Minangkabau yang setingkat dengan kiai untuk daerah Jawa. Dan H. Abdul Manan pun dalam keseharian di Kamang di panggil dengan panggilan buya) mengobarkan semangat perjuangan dengan pekikan Allahuakbar dan kalimat tauhid Laila ha illallah. Kebulatan tekad para pejuang berlanjut dengan puncak gejolak Perang Kamang 1908. Perjuangan H. Abdul Manan dan para pahlawan lainnya mereka tebus dengan nyawa sendiri. Hingga akhirnya beliau gugur dalam perang dahsyat tersebut.
Dari proses pengumpulan bahan tertulis (tahap heuristic) tentang sejarah Perang Kamang terkumpul 41 bahan tentang Perang Kamang 1908 dan H. Abdul Manan. Sumber utama yang menjadi acuan penulisan buku ini adalah bahan dengan kategori sumber primer. Sumber primer yang dimanfaatkan antara lain tulisan yang dibuat pada masa Perang Kamang karya H. Ahmad Marzuki berjudul Nazam Perang Kamang. Karya aslinya berupa tulisan tangan dengan bahasa Arab Melayu yang dibuat pada tahun 1908. Tulisan itu kemudian dicetak ulang dengan judul Syair Perang Kamang oleh percetakan Fort De Kock pada tahun 1926. Sumber primer diambil dari koran Algemeen Handelsblad yang terbit pada tanggal 19 September 1908 berjudul Het Gevecht in Kampoeng Tangah in Kamang. Sumber koran selanjutnya adalah berita pada Bataviaasch Niewsblad. Dalam tulisan pada tanggal 18 Juni 1908 terdapat berita berjudul Belasting-Opstootjes, De Belasting Onlusten. Kemudian, muncul juga sebuah tulisan pada Bataviaasch Niewsblad tanggal 24 Agustus 1908 yang berjudul De Beweging Tersumatera’s Weskust. Ketiga tulisan pada koran berbahasa Belanda itu terbit tahun 1908 bercerita tentang Perang Kamang yang begitu dahsyat.
Sumber menarik lainnya yang berhasil diperoleh adalah sebuah naskah ketikan pribadi yang dibuat oleh pengalih bahasa H. Gazali Djalaludin. Diperkirakan bersumber dari buku Blumberger dalam tulisannya berjudul De Nationalische Beweging In Nederlandsch-Indie. Selain itu diperoleh juga sebuah kutipan buku tanpa judul dengan sub bab Het Gevecht te Kampoeng Tangah in Kamang dalam bahasa Belanda. Buku ini diperkirakan masih bagian dari buku Blumberger seorang penulis buku sejarah Belanda.
Untuk memperkaya informasi tentang Perang Kamang dan H. Abdul Manan, penulis juga menggunakan berbagai buku dan tulisan dengan kategori sumber sekunder. Penulis juga membaca karya sastra seperti: roman Kamang Affaire yang di tulis Maisir Thaib. Kamang 1908 (Drama Sebabak) yang di tulis oleh Taharuddin Hamzah dan Sjamsuddin Sjafei pada tahun 1964.  Ada juga novel Catatan Usang Seorang Juru Tulis karya Trides yang di publikasikan secara on line di internet pada situs www.rizalbustami.blogspot.com. Penelitian sejarah H Abdul Manan dan Perang Kamang 1908 ini diperkaya dengan pemanfaatan metode sejarah lisan.
Mengingat nilai juang dan ketokohan H. Abdul Manan yang begitu besar, maka sudah menjadi keharusan dibuatnya sebuah buku biografi H. Abdul Manan sang tokoh Perang Kamang 1908. Hal ini dirasa perlu dan sangat mendesak agar sejarah Perang Kamang dan tokoh H. Abdul Manan dapat dikenal oleh berbagai pihak. Apalagi dewasa ini jiwa zaman telah membawa cahaya sejarah Perang Kamang makin meredup. Ditambah lagi dengan keadaan bangsa yang makin meninggalkan jati diri keindonesiaan. Makin menipisnya nasionalisme dan semakin kurangnya rasa kepekaan sosial terhadap bentuk kesewenangan. Sebelum cahaya itu memudar maka bersegeralah kita menggelorakannya kembali. Salah satunya adalah dengan membangkitkan kembali kecintaan akan sejarah dan nilai-nilai juang Perang Kamang 1908 dihati para generasi muda.

Tidak ada komentar: