BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
Dengan
Bismillah hamba suratkan,
Alhamdulillah
pujian ke Tuhan,
Selamat
dan salam dua sejalan,
Atas
Muhammad Rasul pilihan.
Sahabat
nan alah pula serta,
Sekalian
tabiin ikutan kita,
Di atas dunia
jadi pelita,
Hingga
kiamat dunia yang lata.
Amma
Bakdu inilah peri,
Hamba
yang hina Ahmad Marzuki,
Nazam
dikarang dalam tangsi,
Akan
perintang rusuhnya hati.
Hamba mengarang dagang
yang papa,
Mengarang nazam jo1
air mata,
Setiap hari berhati duka,
Karena kuat syaitan
mendaya.
Angin lah guncang di dalam dada,
Diri miskin tiada berharta,
Apa terkenal2 mengeluh
saja,
Begitulah nasib empunya nama.
Allahu Rabbi Tuhan ar-Rahman,
Mula-mula sengsara tiba di badan,
Di negeri Kamang orang namakan,
Malam Selasa petang Isnayan.
Pukul tiga malam serdadu datang,
Pikul senapan serta kelewang,
Tegak di halaman bedil dipegang,
Kemendur3 opas sudahlah
terang.
Ada berdua Penghulu Kepala,
Hambapun lelap dijagakannya,
Diri terkejut jadi jaga,
Berlari ke pintu lekas segera.
Keduanya itu Penghulu Kepala,
Membuka pintu lekas segera,
Tiba di rumah kumisi4 pula,
Sudah kumisi banyaklah kata.
Rundingan banyak jadilah sudah,
Wahai Haji manalah ia,
Kami mencari sangatlah payah,
Lah sampai kami ke Kampung Tengah.
Hamba menjawab selurus hati,
Di kampung Tengah di rumah bini,
Tuanku Mandua menghimbau hendak pergi,
Mari tunjuki sekarang kini.
Diambil baju lalu disarungkan,
Anak berpegang dari pada tangan,
Kiri dan kanan belakang hadapan,
Memegang ayah jangan berjalan.
Kemendur berkata lekas segera,
Wahailah upik tidak mengapa,
Berilah ayah pergi jo hamba5,
Saya mengaku tidak binasa.
Kemendur berkata sekarang zaman6.
Jadi menangis anak sekalian,
Kiri dan kanan belakang hadapan,
Memegang ayah jangan berjalan.
Kemendur berpikir tengah halaman,
Jadi berjalan ianya sekali,
Soldadu mengiring dengan barisan,
Opas di belakang pula mengiringkan.
Diberilah duduk waktu itu,
Wahailah anak peganglah lampu,
Hati di dalam janganlah ragu,
Senangkan hati supaya tentu.
Anak
berkata masuk sekarang,
Janganlah ayah pergi berperang,
Badan kok mati nyawa berpulang,
Di ini kampung di lebuh gadang.
Wahailah anak buah hati sayang,
Aku berjalan jangan dilarang,
Melihat ayah nyawa berpulang,
Ke negeri akhirat kampung yang
lengang.
Hamba berjalan lekas segera,
Pukul tiga malam supaya nyata,
Kiri dan kanan memandang juga,
Di kampung Tengah setelah tiba.
Hamba berjalan diri seorang,
Kiri dan kanan memandang-mandang,
Didapati serdadu pegang kelewang,
Sekeliling rumah supaya terang.
Hamba lah tiba pula di sana,
Serdadu baris hamba lihatkan,
Menghindar sedikit hamba ke sana,
Ianya menghindar hamba berjalan.
Hamba lah tiba pula di sana,
Penghulu Kepala lalu berkata,
Wahai Haji Ahmad bernama,
Pergilah cahari lekas segera.
Tuan Seteneng lalu berkata,
Wahailah Haji Ahmad bernama,
Lihat ayahmu lekas segera,
Kami mencari tidak bersua.
Naik sekali ke atas rumah,
Dilihat pintu sudahlah pecah,
Sebab soldadu menghantam rumah,
Ianya berpusing mencari ayah.
Hambalah tiba di atas rumah,
Wahailah bunda manalah ayah,
Bunda menjawab tidak di rumah,
Ayahlah yang hilang takdir Allah.
Berulang-ulang bunda mencari,
Tiap-tiap bilik ia masuki,
Ke atas ke bawah ia caliki8,
Tidak bertemu sampai ke kini.
Hamba berjalan turun di tangga,
Kepada Kemendur aku berkata,
Rupanya ayah tidak di sika9,
Di nagari Bansa tempat dianya.
Tuan Seteneng lalu berkata,
Marilah cari semalam iko10,
Diri berjalan lalu segera,
Dengan soldadu berjalan semua.
Penghulu kepala lalu mengiringkan,
Bersama Haji Ahmad namakan,
Baru sebentar lalu berjalan,
Bertemu Batudung di tengah jalan.
Penghulu Kepala lalu berkata,
Kepada Batudung ialah nama,
Tangan Batudung dipegangkannya,
Ditarik ke belakang dengan segeranya.
Berjalan juga sekarang zaman,
Pergi mencari Syekh Abdulmanan,
Ayah Haji Ahmad tidaklah bukan,
Bersama mencari pergi berjalan.
Engku Syekh Abdul Manan orang yang
tua,
Di dalam nagari Kamang namanya,
Tempat menampung yang benar kiranya,
Itulah sebab dicari juanya.
Dan lagi pula waktu itu,
Beliau tertuduh di zaman itu,
Memberi azimat satu persatu,
Tiap-tiap orang kabarnya itu.
Azimat itu kabarnya orang,
Akan di bawa terus berperang,
Tidak telap piluru menantang,
Yaitu pitanah kepada orang gadang.
Tambah berjalan sedikit lagi,
Lalu melihat kemendur tadi,
Kepada Betudung memberang sekali,
Barangkali awak ang hindok11
di sini.
Hamba pun diam tidak berjalan,
Serdadu melingkar kiri dan kanan,
Tidaklah dapat akan dikatakan,
Berasakan hilang nyawa di badan.
Pikiran hamba waktu itu,
Tidaklah nan lain tempat mengadu,
Melainkan Allah Tuhan yang satu,
Terhindar hendaknya bahaya itu.
Baru sebentar Angku Mandur berkata,
Kepada hamba Haji Ahmad nama,
Dengan Batudung sama serta,
Jangan melawan begitu katanya.
Hamba Haji Ahmad lalu menjawab,
Tunduk kepala lalu berhadap,
Adakah boleh aku menjawab,
Sekalian tidak itulah jawab.
Keduanya orang kamu jangan menjawab,
Di mucung tidak hati menghadap,
Kedua orang itu mesti ditangkap,
Di bawa ke bui ke kamar gelap.
Batudung menjawab dengan segera,
Dengan Haji Ahmad sama serta,
Itu timbangan tuan semata,
Digantung tinggi hamba pun suka.
Ketika itu Angku Kepala berkata,
Kepada Batudung deras suara,
Mana Batudung pegawai hamba,
Marilah lekas dengan segera.
Batudung keluar ketika itu,
Ketika dilingkung oleh soldadu,
Maksudnya berjalan waktu itu,
Angku Mandur mahariak pula di situ.
Waktu itu Angku Mandur memberang,
Keras suaranya bukan kepalang,
Batudung di periksa masa sekarang,
Barangkali ada pakai kelewang.
Soldadu terus pergi kumisi,
Keliling tubuh Batudung tadi,
Kebetulan ada kelewang dicari,
Di dalam kain dia selimuti.
Soldadu terus pergi kumisi,
Keliling tubuh Batudung tadi,
Kebetulan kelewang dicari,
Di dalam kain diselimuti.
Haji Ahmad tercemas di sana,
Tidaklah jadi ianya berjalan,
Memandang jua kiri dan kanan,
Bak itu lah nasib masa di sana.
Maksud berjalan masa di sana,
Angku Mandur mahariak11
pula di sana,
Kepada Batudung orang namakan,
Kamu sekarang mau melawan.
Batudung berkata masa di sana,
Adakah patut hamba melawan,
Tuan raja tinggi angkatan,
Tidaklah patut kita melawan.
Tuanku Mandur lalu berkata,
Kepada soldadu pula semuanya,
Ikut olehmu dengan segeranya,
Soldadu melingkar dengan segeranya.
Tangan Batudung lalu dipegang,
Lalu diondoh12 pula ke
belakang,
Angku Mandur berjalan masa sekarang,
Soldadu mengiring pada belakang.
Hamba pun diam tidak berjalan,
Senapang berbunyi hilang pikiran,
Rasokan melayang nyawa di badan,
Ayah dicari tidak kelihatan.
Bunyi senapang gegap gempita,
Batudung kena jatuh tertimpa,
Patalah kaki apalah daya,
Hilang pikiran pada seketika.
Allahu Rabbi khaliqul alam,
Bunyi senapan berdentam-dentam,
Gegap gempita rasanya alam,
Setengah mati setengah terbenam.
Setengah lari berserak-serak,
Entah ke mana badan tercampak,
Ada nan luka kaki pun rusak,
Setengah berjalan jadilah tenjak.
Umat di situ berbagai macam,
Setengah lari ke rimba dalam,
Setengah pecah tulang di dalam,
Karena soldadu datang menghantam.
Allahu Rabbi Tuhan yang menang,
Ayam berkokok hampirlah siang,
Burung berbunyi hampirlah datang,
Perang berhenti sudahlah tenang.
Takdir Allah Tuhan yang kaya,
Ayah dicari tidak bersua,
Puas mencari kiri kanannya,
Sampai bersua di satu masa.
Waktu hamba mencari ayah,
Di mana umat di situ banyak nan rebah,
Hilir dan mudik kiri kananlah,
Laki perempuan tidak tentulah.
Ayah hamba itu rasa di mata,
Puas mencari tidak bersua,
Hilir dan mudik dijalani jua,
Tidak bertemu hatilah duka.
Jihat yang empat sudah dijalani,
Ujung jo puhun13 demikian
lagi,
Mencari ayah kandung sendiri,
Tidaklah ayah dapat dicari.
Ketika hamba mencari ayah,
Hati di dalam sangatlah gundah,
Waktu subuh hampir terbitlah,
Setengah lima kalau tak salah.
Ya
Allah Tuhan yang menang,
Ummat
di situ silang menyilang,
Meminta
air sedikit seorang,
Haus
nan sangat bukan kepalang.
Ya
Allah Tuhan yang rahman,
Menjadi
juara pangkat di sanan,
Siapa
meminta hemat berikan,
Seorang
tidak ada berkawan.
Waktu
subuh sudahlah tiba,
Tampak
di situ roman jo rupa,
Waktu
itu ayah bersua,
Tidaklah
dapat akan dikata.
Hibanya
hati bukan kepalang,
Ayah
dilihat sudahlah terang,
Badan
rusak nyawa berpulang,
Hati
di dalam menaruh bimbang.
Hamba
menangis sangatlah duka,
Diremas
perut ditampar dada,
Akalpun
hilang apa bicara,
Gunung
nan tinggi rendah rasanya.
Dalam
menangis berkata aku,
Wahai
ayah mengapakan aku,
Apa
kesalahan atas diriku,
Untung14
di akhirat kita bertemu.
Wahai
ayahku jantung pengarang,
Ajallah
mati nyatalah terang,
Ananda
tinggal berhati bimbang,
Entah
bak mana masa sekarang.
Ayah
dipangku hendak dibawa,
Kiranya
ayah sangat beratnya,
Hamba
berjalan dengan segera,
Mencari
kawan itu sengaja.
Ayah
dibawa sama sekali,
Orang
menolong beramai-ramai,
Tolan
sahabat kakak dan uni,
Menjelang
kampung rumah sendiri.
Dibawa
ayah bersama-sama,
Menjelang
kampung tempat diamnya,
Naik
jenjang rumah tangga,
Ayah
dibujur bersama-sama.
Ayah
dibujur tidur telentang,
Kiri
dan kanan orang pun datang,
Laki-laki
perempuan kecil dan gadang,
Semuanya
menangis berhati mamang.
Hamba
pulang wakti itu,
Ditapati
anak bertutup pintu,
Wahai
anak bukalah pintu,
Pintu
terbuka hamba pun lalu.
Di
atas rumah hamba pun tiba,
Anak
perempuan lalunya bertanya,
Perasaian
untug dibilang pula,
Anak
menangis serta ibunya.
Wahai
anak buah hati sayang,
Engkau
menangis ayah melarang,
Sudah
takdir Tuhan yang menang,
Tidak
boleh kita melarang.
Hamba
kembali lekas segera,
Tidaklah
banyak dapat bicara,
Ayah
tinggalkan anak sementara,
Lekas
kembali ayah di sini.
Jam
pukul enam kiranya hari,
Hamba
berjalan terus kembali,
Tempat
peperangan tibalah diri,
Telah
tiba hamba di peperangan tadi.
Hamba
melihat kian kemari,
Kiranya
orang sudahlah rami,
Penuh
bersesak di pekarangan tadi,
Manyo15
mait yang sudah mati.
Allah
Allah Tuhan yang kaya,
Banyak
macamnya bekasnya pisau,
Setengah
berserak geraham kepala,
Tidaklah
dapat riwayat mengenal.
Wahai
saudara kakak dan adik,
Banyak
macam hamba lihati,
Rompaklah
dada tidaklah seperti,
Sampai
ke punggung tidak bersisi.
Wahai
saudara segala tolan,
Tidaklah
cukup hamba syairkan,
Maklumlah
kita dalam peperangan,
Rompak
jo rebut hamba lihatkan.
Nan
heran benar hamba pikiri,
Bekas
peluru orang kompeni,
Dilihat
di muka segadang16 menjadi,
Rompak
ke punggung tidak seperti.
Sangatlah
banyak ummat di situ,
Melihat
mait satu per satu,
Dicampur
pula dengan soldadu,
Jam
pukul tujuh waktu itu.
Ya
Allah Tuan Rabbani,
Hamba
kirahi ummat yang mati,
Seratus
lebih kurang tak jadi,
Begitu
ingatan hati sendiri.
Wahai
sahabat tolan saudara,
Famili
juga nama di kita,
Sembilan
orang tampak di mata,
Dibawa
soldadu pagi harinya.
Sebelum
dibawanya mait yang mati,
Air
mata keluar tidak seperti,
Semacam
kain di kelantang rang dobi17,
Begitu
terjadi hamba lihati.
Satu
persatu mait lah tentu,
Dicari
pedati waktu itu,
Pembawa
mait pengumpul satu,
Pekuburan
panjang dibikin tentu.
Wahai
saudara kakak dan adik,
Tolong
doakan mait yang mati,
Jangan
berbahaya di belakang hari,
Begitu
pinta kepada Rabbi.
Penglihatan
sudah jalan segera,
Di
Kampung Tengah tibalah hamba,
Didapati
orang sangatlah sesaknya,
Mencari
rundingan secara benarnya.
Sesudah
ayahku dikuburkan orang,
Di
situ hati bertambah mamang,
Setiap
hari pagi dan petang,
Entah
kemana badan terlayang.
Tahun
seribu tiga ratus dua puluh enam,
Situ
cobaan nan sangat tajam,
Banyaklah
mait orang Islam,
Waktu
perang hari malam.
Sampailah
ayah dikali tujuh,
Datang
pula orang mengicuh,
Menjemput
hamba tak boleh tangguh,
Sananlah
hati makanya rusuh.
Anak
berkata sambil terkejut,
Wahailah
ayah jangan bergulut18,
Minum
dahulu kopi menghirup,
Entah
pabila ayah akan surut.
Entah
pabila ayah akan pulang,
Entah
ke laut merantau panjang,
Minum
dahulu ayahku sayang,
Anak
kan tinggal berhati mamang.
Wahailah
anak buah hati hamba,
Minum
dan makan tidak terkawa19,
Karena
panggilan keras rasanya,
Darah
pun hilang di dalam dada.
Hamba
berjalan masa sekarang,
Anak
menurut pada belakang,
Sampai
ke lepau ke lebuh simpang,
Anak
dilihat berhati goyang.
Wahailah
anak jangan pergi,
Pulanglah
engkau balik kembali,
Aku
berjalan di hari ini,
Entah
kemana badan pergi.
Anak
perempuan tidaklah mau,
Biarlah
kami turut soldadu,
Tidaklah
guna hidup badanku,
Sama
terkurung biarlah aku.
Wahai
anakku serta perempuan,
Janganlah
itu engkau jawabkan,
Pergilah
pulang rumah berhunikan,
Pintakan
saja kepada Tuhan.
Allahu
Rabbi Tuhan yang menang,
Anak
berbalik kembali pulang,
Jadi
bercerai tolak belakang,
Situ
beragak kasih dan sayang.
Aku
berjalan bergegas-gegas,
Matahari
terbit hari pun panas,
Sebentar
tiba di gudang luas,
Aku
pun masuk hati pun cemas.
Takdir
Allah Tuhan yang satu.
Tuanku
Laras tidak di situ,
Gudang
dihuni oleh soldadu,
Apa
salahnya tidak ku tahu.
Tuan
sapiran21 lalu bertanya,
Wahai
Haji Ahmad nama,
Luka
di kening ditanyakannya,
Lihat
di tuan supaya nyata.
Sekali
lagi ia katakan,
Wahailah
Haji hendak dengarkan,
Pergi
ke tangsi segera jalan.
Pasang
pelenggu opas sarasan22.
Hamba
menjawab dengan segera,
Pasang
pelenggu janganlah hamba,
Turut
parentah hamba pun suka,
Hamba
dibelenggu apalah guna.
Tidak
hamba akan nak lari,
Apa
gunanya pelenggu besi,
Hamba
pun duduk atas kursi,
Tidak
berkawan seorang diri.
Hambalah
duduk pada seketika,
Tuan
aspiran lalu berkata,
Kepada
soldadu menyuruh menjaga,
Kabarnya
banyak mau mencoba.
Datang
soldadu pula kemudian,
Tidak
telap di piluru ia katakan,
Arwah
melayang rasa di badan,
Hilang
rona terkejut iman.
Datanglah
pula takdir Tuhan,
Pukul
satu berbunyi datanglah hujan,
Soldadu
lari ia berjalan,
Hamba
pun tinggal pula di sana.
Datang
soldadu pula sekarang,
Wahailah
aku baik ke gudang,
Hujan
pun lebat mata memandang,
Hamba
pun naik pula sekarang.
Dalam
beranda tegak berdiri,
Datang
serdadu membawa kursi,
Hamba
pun duduk hati lah sunyi,
Hujan
nan lebat Allahu Rabbi.
Sersan
Belanda ada kasihan,
Rokok
bergiling ianya berikan,
Api
pun tidak apa pikiran,
Pada
soldadu dia pintakan.
Sersan
itu sangatlah penyayang,
Melihat
hamba berhati mamang,
Kabarlah
banyak hatilah senang,
Ganti
berganti kabar dibilang.
Pukul
empat berbunyi sudahlah nyata,
Serdadu
berbaris membawa hamba,
Di
tengah baris diletakkannya,
Diri
berjalan terbang rasanya.
Allah
Allah Tuhan Rahman.
Di
nagari Kapau ditapuang23 hujan.
Hujan
nan lebat tidak bandingan.
Kain
pun basah dinginlah badan.
Allah-Allah
Tuhanku Rabbi,
Kaki
berpijak sangatlah ngari,
Sebentar
tiba di Bukittinggi,
Lalu
sekali ke dalam tangsi.
Di
dalam tangsi duduklah hamba,
Badanlah
dingin apalah daya,
Kainlah
basah sekaliannya,
Datang
jaksa pula menanya.
Jaksa
bertanya sangatlah garang,
Kamu
ke Kamang pergi berperang,
Diri
menjawab habislah tenggang,
Arwah
di badan rasa terbang.
Hamba
menjawab pada masa itu,
Hamba
pun pulang pada hari Saptu,
Tidak
nak perang maksud diaku,
Sebab
perempuan ada di situ.
Ada
seorang pula Belanda,
Tubuhnya
besar gagah rupanya,
Sebuah
senapang dipegangkannya,
Kemuka
aku dientakkannya.
Tetapi
tidak ia lakukan,
Tidak
telap di piluru ia katakan,
Allahu
Rabbi Tuhan yang Rahman,
Rasa
melayang arwah di badan.
Angku
jaksa lalu berkata,
Kepada
tukang kunci Atos namanya,
Tutuplah
Haji Ahmad nama,
Iapun
datang lekas segera.
Wahailah
Haji marilah kita,
Sebentar
berjalan jadilah tiba,
Pintu
tutupan dibukakannya,
Hamba
pun masuk lekas segera.
Tiba
di dalam duduk sekali,
Kain
pun basah apalah budi,
Badan
pun dingin Allahu Rabbi,
Baju
dipiuh disarungkan sekali.
Didapati
orang telah bertiga,
Kecek
mengecek pula di sana,
Soldadu
datang pada itu masa,
Mengatakan
berani ialah hamba.
Segera
pintu orang tutupkan,
Badanlah
dingin tidak bandingan,
Kemudian
nasi orang ulurkan,
Bak
rasa sakam baru dimakan.
Semalam
itu habislah budi,
Kainlah
basah apa pengganti,
Badan
pun dingin jadilah pasi25,
Batu
keliling di tengan diri.
Semalam
itu hati pun susah,
Badan
pun dingin bersahap basah,
Dingin
nan sangat bukanlah ulah,
Begitu
nasib takdir Allah.
Semalam
itu habislah tenggang,
Ayam
berkokok hampirlah siang,
Burung
berbunyi waktu datang,
Diambil
uduk lalu sembahyang.
Harinya
itu hari Arbaa,
Hamba
dipanggil engku Jaksa,
Di
kantor sipir di situ tinggal,
Ia
menanya nama dan gelar.
Lain
dari itu tidaklah kabar,
Pergilah
kamu di mana tinggal,
Hamba
berjalan opas mengantar,
Masuk
tutupan ke dalam kamar.
Harinya
Kamis waktu pagi,
Opas
lah datang membuka kunci,
Tangan
berikat pelenggu besi,
Diri
keluar tangan bertali.
Opas
membawa tiba di pasar,
Lalu
sekali ke kantor Tuan Besar,
Tiba
di situ tidaklah kabar,
Tegak
di situ ada sebentar.
Tuan
Besar berkata sedang menekur,
Hendaklah
kamu bawa kepada kemendur,
Hamba
berjalan darah berdebur,
Hamba
di situ duduk menekur.
Tuan
Seteneng lalu berkata,
Wahai
Haji Ahmad nama,
Mengambil
bedil apa sengaja,
Demikian
kelewang sama serta.
Hamba
menjawab berlemah kata,
Meminta
ampun tunduk kepala,
Mengambil
bedil tidaklah hamba,
Mengambil
kelewang aku pun ia.
Seteneng
berkata semasa itu,
Kabarnya
keras tidaklah judu,
Mau
memecah kepala aku,
Rasa
melayang nyawa badanku.
Ia
berkata sekali lagi,
Pergilah
engkau ke dalam tangsi,
Diri
berjalan tangan bertali,
Opas
mengiring kanan dan kiri.
Di
dalam tangsi hamba lah tiba,
Pelanggu
tangan berbuka pula,
Hamba
kan masuk kamar terbuka,
Perasaian
untung dikabarkan pula.
Hari
Jumat pagilah hari,
Situ
pikiran makanya sunyi,
Melihat
orang sangatlah ramai,
Tolan
sahabat kakak dan adik.
Hari
Saptu waktu siang,
Membukakan
kunci opas lah datang,
Di
hari ini engkau ke Padang,
Pelenggu
besi lalu ia pasang.
Hari
Saptu waktu pagi,
Opaslah
datang membuka kunci,
Lalu
berkata sama sekali,
Angku
ke Padang di hari ini.
Pelenggu
besi lalu ia pasang,
Tiga
belas kami sudahlah terang,
Tangan
berikat sebelah seorang,
Hela-berhela
bertegang-tegang.
Setengah
berempat setengah bertiga,
Keluar
di tangsi berhela-hela,
Opas
mengiring berdua-dua,
Pergi
ke setasiun ianya membawa.
Dalam
setasiun tibalah kami,
Kami
di situ tegak berdiri,
Menanti
tiba kereta api,
Orang
melihat sangatlah ramai.
Allhu
Rabbi Tuhan yang kaya,
Orang
melihat sangat ramainya,
Hati
nan rusuh tidak terkira,
Jatuh
ke perut air mata.
Sebentar
kami ada menanti,
Kereta
tiba naik sekali,
Wallahu
‘alam rusuhnya hati,
Entah
kemana badan pergi.
Allahu
Rabbi Tuhan yang menang,
Lonceng
berbunyi jalan sekarang,
Kereta
jalan rasa terbang,
Sebentar
tiba di Padang Panjang.
Allahu
Rabbi Tuhan Rahman,
Di
atas kereta turunlah badan,
Serdadu
menanti dengan barisan,
Kiranya
diri masuk karapusan.
Kerapuan
sempit tidak terkira,
Ada
termuat kami bertiga,
Pukul
satu berbunyi waktu tiba,
Tidak
berwuduk sembahyang saja.
Kami
lah sudah dari sembahyang,
Serdadu
datang pegang kelewang,
Pelenggu
besi lalu ia pasang,
Kami
pun tegak ia membilang.
Kami
berbaris pula semuanya,
Dihalaunya
kami seperti kuda,
Kiri
dan kanan pegang senjata,
Masuk
setasiun supaya nyata.
Semuanya
kami naik deresi26,
Jalan
segera lonceng berbunyi,
Cepat
kereta Allahu Rabbi,
Di
Kayu Tanam tibalah kami.
Di
Kayu Tanam setelah tiba,
Perut
lah lapar sekaliannya,
Dibeli
nasi segadang saja,
Air
di bendar diminta pula.
Di
Kayu Tanam berangkat sekali,
Kencang
kereta Allahu Rabbi,
Di
gudang mesiu tibalah kami,
Tiba
di situ lah senja hari.
Di
gudang mesiu setelah tiba,
Ke
Pulau Air berangkat pula,
Kami
keluar sekaliannya,
Datang
soldadu dua orang Belanda.
Dibawanya
kami ke dalam tangsi,
Tiba
di situ duduklah kami,
Diberinya
lapik bantal jerami,
Sebuah
belik kan tempat nasi.
Allhu
Rabbi Tuhan yang kaya,
Pukul
delapan berbunyi pula,
Perut
lah lapar tidak terkira,
Nasi
diminta tidaklah ada.
Lalu
berkata tuan aspiran,
Kamu
sekarang tak dapat makan,
Perut
nan lapar tidak bandingan,
Air
diminta ia berikan.
Air
pun dapat minum bersama,
Hauspun
lepas hilang dahaga,
Opas
berkata marilah kita,
Kami
lah tegak dengan segera.
Opas
membawa ada berdua,
Kami
berjalan dengan segera,
Lapik
dikepit bantal isinya,
Di
pintu kamar setelah tiba.
Ke
dalam kamar masuklah kami,
Dikembangkan
lapik sama sekali,
Bantal
nan keras Allahu Rabbi,
Kulitnya
jangat isinya jerami.
Orang
Air Bangis ada di sana,
Perasaian
untung dikabarkan pula,
Opas
pun datang lalu berkata,
Kamu
nan jangan buka bicara.
Kami
telah tidur pula sekalian,
Di
dalam hati banyak angan-angan,
Entah
di mana rasanya badan,
Dibawa
lelap jadi resian.
Pukul
lima berbunyi hari pun siang,
Diambil
uduk lalu sembahyang,
Sudah
sembahyang duduk bersenang,
Rundingan
banyak berhati mamang.
Telah
pukul enam kiranya hari,
Orang
lah datang mengantar nasi,
Segantang
susu27 ianya membagi,
Garam
sedikit pemakan nasi.
Allahu
Rabbi Tuhan yang kaya,
Pukul
sembilan berbunyi pula,
Datanglah
nasi serta maca28,
Antah
dan dedak sama serta.
Nasi
diambil lalu dimakan,
Antah
dan dedak ia campurkan,
Baru
dikunyah ngilu geraman,
Begitu
nasib perasaian badan.
Diberinya
bantai sekali dua hari,
Bantai
tak masak keras sekali,
Di
situ susah nan tanggal gigi,
Begitu
untung perasaian diri.
Barang
nan tua hilang akal,
Bantai
keras geraman tanggal,
Duduk
bermenung lalu menyadar,
Di
dalam hati berapa sesal.
Diambil
bantal lalu bermenung,
Setengah
menggigit setengah menapuang29,
Setengah
menghibau uwai30 nan kandung,
Di
dalam tangsi begitu untung.
Allah-Allah
Tuhan Rabbi,
Tuan
Seteneng datang sekali,
Ianya
berkata suara tinggi,
Sekali
jangan diberi nasi.
Sekali
jangan diberi makan,
Biarlah
mati dalam tutupan,
Kami
menekur pula sekalian,
Rasa
melayang arwah di badan.
Ianya
berjalan lekas segera,
Kami
pun menyangkal banyaklah kata,
Kita
semuanya dimarahi bapa,
Janganlah
pula masuk ke dada.
Waktu
malam pukul delapan,
Lonceng
berbunyi seberapa ketukan,
Mandor
merentak dengan kemegahan,
Orang
tangsi diam sekalian.
Ada
sebulan sesudah itu,
Datang
berdua pula soldadu,
Diambilnya
kunci dibukanya pintu,
Ia
berkata satu per satu.
Di
dalam kamar keluarlah kami,
Tangan
berikat pelenggu besi,
Opas
mengiring kanan dan kiri,
Pegang
kelewang sama sekali.
Di
atas kantor setelah tiba,
Pelenggu
tangan dibukakannya,
Tuan
besar berkata kepada hamba,
Wahailah
Haji Ahmad nama.
Kesalahan
kamu banyak macamnya,
Membuat
azimat mula pertama.
Memberi
orang jangan telap di peluru,
Menanam
di dalam pintu kaporo31.
Hamba
menjawab berlemah kata,
Sekalian
perkataan itu tiada,
Sekali
tidak pekerjaan hamba,
Janglah
tuan sak dengan sangka.
Kabarlah
sudah berkata polisi,
Kamu
keluar sekarang kini,
Kami
pun tegak lalu berdiri,
Segera
jalan sama sekali.
Tiba
di luar duduk sebentar,
Situlah
hati makanya gusar,
Karena
kesalahan teranglah kabar,
Pikir
di hati nagari tinggal.
Opas berkata kepada kami,
Kamu dipilanggu sama sekali,
Pilanggu lekat jalanlah kami,
Opas mengiring kanan dan kiri.
Ke dalam kamar masuk sekalian,
Tibalah pula kami di sana,
Banyaklah tanya kiri dan kanan,
Tanya menanya perasaian badan.
Perasaian hamba sangatlah gadang,
Pitanah banyak bukan kepalang,
Tuah azimat disebut orang,
Menanam azimat di pintu gerbang.
Sembilan belas bulan di tangsi Padang,
Tuan sekretaris sekali datang,
Menanyakan pekerjaan tiap-tiap orang,
Tempat lahir diri di minta orang.
Aku menjawab duduk bermenung,
Tempatku lahir di negeri Semenanjung,
Bundaku di situ memberi untung,
Jadi bertemu Kamang jo Candung.
Sekeretaris datang sekali lagi,
Mengatakan pindah ke negeri Betawi,
Dua puluh tiga orang sama sekali,
Hatilah rusuh apalah budi.
Di dalam tangsi kami di keluarkan,
Di pasang pelenggu pula sekalian,
Diri barangkali kambing jagalan,
Opas mengiring kiri dan kanan.
Lama di jalan ada sebentar,
Tiba di setasiun naik kereta,
Di situ hati sangatlah gusar,
Pikir di hati kampung lah tinggal.
Lonceng berbunyi jalan sekali,
Ke Teluk Bayur di bawa kami,
Tiba di situ turunlah kami,
Dalam setasiun tegak berdiri.
Sebentar tegak datanglah kabar,
Perentah datang naik ke kapal,
Salam bersalam selamat tinggal,
Selamat pergi belasan kabar.
Pukul sebelas setelah tiba,
Kapal berangkat sudahlah nyata,
Air mata terbit jatuh ke dada,
Entah mau pulang entah tiada.
Allahu rabbi Tuhan yang menang,
Kapal berjalan umpama kumbang,
Sangat cepat rasa terbang,
Entah kemana badan terlayang.
Allahu Rabbi Tuhan yang rahman,
Nazam dikarang perasaian badan,
Negeri Makasar tempat kediaman,
Sekali lagi tambah perasaian.
Tiga tahun lama badan terbuang,
Negeri Makasar supaya terang,
Tiap waktu menaruh bimbang,
Mendengar amanat menyeru pulang.
Takdir Allah Tuhan Ilahi,
Hari Selasa paginya hari,
Diambil kereta jalan sekali,
Sudah sembahyang bersimpan diri.
Sebentar berjalan jadilah tiba,
Naik ke pasar lekas segera,
Meminta nasi itu sengaja,
Sudahlah makan jalan segera.
Tempat kerja lalu dibuka(k),
Dilihat arloji mana yang rusak,
Supaya diganti mana yang tidak,
Diambil perkakas pula pembuka(k).
Lama sebentar pula seketika,
Opaslah datang kepada hamba,
Tegak berdiri lalu bicara,
Angku terpanggil sekarang ini.
Diri terkejut hatilah mamang,
Wahailah udo32 biarlah
terang,
Hatiku ini supaya senang,
Opas menjawab jalan sekarang.
Diambil baju lekas segera,
Kereta angin lalu dibawa ,
Di halaman kantor setelah tiba,
Naik di kantor lekas segera.
Tuan besar berkata masa sekarang,
Kamu dipanggil ke negeri Padang ,
Diri menjawab habis tenggang,
Harap dan cemas serta mamang.
Tuan besar berkata sedemikian,
Jika ada barang hendaklah simpan,
Pergi dengan opas hendak turutkan,
Di beli tali masuk ke pekan.
Diri berjalan masa sekarang,
Opas mengiring pada belakang,
Dibeli tali pengebat barang,
Hati di dalam menaruh mamang.
Barang diikat serta peti,
Opas melihat tidaklah sunyi,
Sudah bersimpan jalan sekali,
Pergi dengan opas ke kantor tadi.-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar